Untuk
kesekian kali, aku harus mencoba menghisap diri, seberapa manfaat diriku kepada
orang-orang di sekitarku. Ternyata, selalu saja aku sangat kecewa dengan diriku
sendiri. Aku merasa masih sangat sedikit memanfaatkan potensi yang diberikan
Allah swt. untuk kebaikan orang lain. Buktinya, belum pernah ada yang merasa
bangga dengan diriku, bahkan diriku sendiri. Terkadang, aku justru lalai, dan
terlanjur bangga dengan sedikitnya amal dan kebodohanku. Sungguh memalukan! Aku
malu kepadamu, Ya Allah….
Beberapa
kali aku merasa telah sukses, karena mendapatkan juara atau telah merasa
melakukan perubahan terhadap masyarakat yang sesungguhnya tidak pernah berubah
karena diriku. Sungguh sangat memalukan. Aku begitu bangga dengan keseuksesan
bernilai material dan artifisial. Kecerdasan yang diberikan Allah kepadaku
telah kugunakan untuk mengejar dunia yang sangat materialis dan mempesona. Aku
lupa dengan kesuksesan yang sesungguhnya. Kesuksesan yang seharusnya aku
perjuangkan hingga matinya jasadku.
Begitu
bodohnya aku, karena telah meninggalkan sukses yang mengandung “kesejatian”,
yang tidak mungkin di dapat dengan cara mengejar meterialisme dunia. Padahal,
setiap hari aku mendengar para Muadzin mengumandangkan ajakan untuk menuju
sukses, “Hayya alal falah”. Aku telah melakukan kesalahan tafsir
terhadap ajakan itu. Kukira aku diajak untuk mengejar milyaran rupiah dan
jabatan-jabatan dunia yang kini sedang diperebutkan manusia. Aku lupa bahwa
ajakan itu berasal dari masjid, supaya aku kembali kepada pangkuan Allah swt.,
karena tidak ada tujuan yang paling baik, kecuali kembali kepada Allah swt., inna
lillahi wa inna ilaihi raji’un.
Bahkan,
ternyata aku juga telah menempatkan solat dan doa sebagai alat untuk mengejar
harta dan jabatan. Aku telah melakukan kesalahan niat pada waktu solat dan
ibadah yang lain. Infak dan sedekahku pun sudah kuhitung secara material, ingin
mendapat balasan kelipatan ganda. Aku lupa bahwa di dalam rezeki yang kudapat
dari Allah swt. terdapat hak orang lain yang harus diberikan kepada yang
berhak, tanpa harus meminta balasan. Cukup ridha Allah saja yang seharusnya aku
harapkan, bukan balasan material yang berlipat ganda. Jika pun balasan itu
memang janji-Nya, biarkan ia mangalir tanpa harus kutahu, sehingga aku mampu
ikhlas dalam beribadah.
Untuk
itu, aku hanya ingin mengatakan bahwa kesuksesan adalah istiqomah dalam menjalankan
tugas secara sungguh-sungguh, baik, dan benar. Dengan kesuksesan itu, kamu akan
mendapatkan keberkahan, yaitu jika segala kerja yang kita lakukan–dijalankan
dengan ikhlas–dan diniatkan ibadah serta selalu ingat kepada Allah swt. Semoga
cara berpikir semacam ini mampu membuat kita semua untuk berhijrah kepada
kehidupan yang lebih baik, Peradaban Spiritual. Amin ya robbal ‘alamin.
0 komentar:
Posting Komentar