Minggu, 27 April 2014

Aku, Kau, dan Dia

Aku masih duduk sendiri menatap langit yang mulai memerah. Menunggu matahari perlahan menghilang dari langit. Menatap  gradasi warna senja yang merah kekuningan. Membuat warna langit berubah menjadi bersinar keemanasan.  Seperti  hamparan ribuan permata yang berkilauan. Indah. Senja disini masih indah seperti bayanganku.

Aku masih enggan beranjak dari tempat dudukku. Mataku beralih menatap anak-anak kecil yang berlari dan bekejaran bersama mainannya. Senyumku terukir mendengar suara tawa renyah mereka yang bersahutan dengan deru angin yang pecah dikaki-kaki kecil mereka. Suara tawa yang renyah dan polos seakan kebahagian didunia ini milik mereka seutuhnya.  Bahagia. Mungkin itulah yang ingin kucari saat ini. Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku tertawa lepas seperti itu. Tidak memperdulikan pandangan orang sekitar yang merasa terganggu mendengar tawaku. Aku tidak peduli. Aku hanya ingin menunjukkan pada dunia kalau aku bahagia. Aku benar-benar bahagia.

Sekarang, besok, dan nanti langit senja akan tetap kembali walau tak ada seorangpun yang menunggunya.  Langit senja tidak pernah letih membagi kehangatannya. Langit senja tidak pernah jenuh memamerkan gradasi warna indahnya.  Karena langit senja tidak pernah berpaling. Langit senja tidak pernah jatuh cinta pada sang mentari ataupun rembulan. Langit senja lebih suka sendiri menatap kepergian matahari dan pergi sebelum sang bulan muncul. Karena langit senja memang tercipta untuk sendiri. Menunggu… dan menunggu matahari pergi. Menunggu dan masih menunggu bulan muncul dan menghilang begitu saja..

Senja.. Aku masih disini menunggumu walau aku tahu kau tidak akan pernah datang.  Aku tahu kau tidak akan pernah duduk disampingku dan diam menatap gradasi warna langit yang selalu kau kagumi. Aku selalu mengatakan kalau warna langit yang paling sempurna adalah saat langit berubah warna menjadi merah kekuningan seperti ini. Memberi warna yang hangat. Tidak terlalu terik seperti langit biru dan tidak terlalu dingin seperti langit malam. Sempurna. Satu kata yang selalu aku gunakan untuk mendeskripsikan senja.

Aku tahu saat ini kau sedang menikmati senja disudut lain. Menatap senja disisi orang yang kau cintai. Tidak apa. Aku tahu senja akan tetap indah walau tak ada sosokmu disampingmu. Aku tahu senja tetap sempurna walau tak ada bayanganmu disampingku.  Karena aku tidak benar-benar membutuhkanmu. Sama seperti senja, aku akan tetap bersinar walau harus sendiri.

Matahari meninggalkan langit senja yang kemerahan karena matahari lebih suka langit biru yang cerah. Bulan tidak akan pernah muncul karena bulan lebih suka langit hitam yang kelam. Langit senja keemasan masih terus bersinar berkilauan walau harus sendiri. Karena langit senja tidak benar-benar membutuhkan matahari. Langit senja tidak benar-benar membutuhkan bulan. Langit senja akan tetap indah dengan kekuatannya sendiri. Karena sejak awal langit senja memang tercipta untuk sendiri.. :)

0

0 komentar:

Posting Komentar