Selasa, 20 November 2012

Tersenyumlah, Hati yang Remuk



Tersenyumlah, Hati yang Remuk..

Teruntuk insan yang hatinya sedang diremukkan

Sapu air matamu yang mengalir deras

Redam bara emosi yang bergejolak memanas

Engkau tercipta bukan untuk menangisi zaman.

Ataupun menyesali duka lara

Usah tenggelam dalam kubangan nestapa



Jika cintamu mengalami kegagalan

Jika ta’arufmu kandas di jalan.

Tersenyumlah…Awan hitam selalu menyimpan pelangi

Begitupun Sang Penggenggam nyawa

Dia selalu punya rahasia dan bijaksana untuk membuat dewasa makhluk-Nya.



Cinta suci sedang menunggumu

Tetapi engkau harus sabar menantikan

Cinta itu akan menjemputmu

Di masa yang telah Dia rencanakan.



Teruntuk yang hatinya sedang diremukkan

Jangan berikan celah pada syaitan yang membuat semangatmu terlemahkan

Perihnya duka bukanlah isyarat runtuhnya langit

Ataupun robeknya kulit bumi.



Allah menempa pribadi tangguhmu

Dalam butiran air matamu

Dalam jeritan derita batinmu

Dalam rintihan sesaknya nafasmu.



Teruntuk yang hatinya sedang diremukkan

Pasang surut laut adalah kepastian

Tawa dan tangis adalah kewajaran

Takdir-Nya menjadikan makhluk berpasangan.



Sebuah ketetapan Sang Penguasa

Jika engkau tak dapatkan pasangan di dunia

Bukan berarti Allah memberimu petaka

Tapi Dia sedang menyiapkan makhluk terindah

Yang menantimu di Jannah

Yang kan menemani jiwamu yang resah

Tersenyumlah…

Dalam kesabaran munajad panjangmu

Meski tajamnya duri mencabik-cabik lukamuMeski remuk redam menyerang hatimu.
0

Rabu, 10 Oktober 2012

MUHASABAH



Untuk kesekian kali, aku harus mencoba menghisap diri, seberapa manfaat diriku kepada orang-orang di sekitarku. Ternyata, selalu saja aku sangat kecewa dengan diriku sendiri. Aku merasa masih sangat sedikit memanfaatkan potensi yang diberikan Allah swt. untuk kebaikan orang lain. Buktinya, belum pernah ada yang merasa bangga dengan diriku, bahkan diriku sendiri. Terkadang, aku justru lalai, dan terlanjur bangga dengan sedikitnya amal dan kebodohanku. Sungguh memalukan! Aku malu kepadamu, Ya Allah….

Beberapa kali aku merasa telah sukses, karena mendapatkan juara atau telah merasa melakukan perubahan terhadap masyarakat yang sesungguhnya tidak pernah berubah karena diriku. Sungguh sangat memalukan. Aku begitu bangga dengan keseuksesan bernilai material dan artifisial. Kecerdasan yang diberikan Allah kepadaku telah kugunakan untuk mengejar dunia yang sangat materialis dan mempesona. Aku lupa dengan kesuksesan yang sesungguhnya. Kesuksesan yang seharusnya aku perjuangkan hingga matinya jasadku.

Begitu bodohnya aku, karena telah meninggalkan sukses yang mengandung “kesejatian”, yang tidak mungkin di dapat dengan cara mengejar meterialisme dunia. Padahal, setiap hari aku mendengar para Muadzin mengumandangkan ajakan untuk menuju sukses, “Hayya alal falah”. Aku telah melakukan kesalahan tafsir terhadap ajakan itu. Kukira aku diajak untuk mengejar milyaran rupiah dan jabatan-jabatan dunia yang kini sedang diperebutkan manusia. Aku lupa bahwa ajakan itu berasal dari masjid, supaya aku kembali kepada pangkuan Allah swt., karena tidak ada tujuan yang paling baik, kecuali kembali kepada Allah swt., inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Bahkan, ternyata aku juga telah menempatkan solat dan doa sebagai alat untuk mengejar harta dan jabatan. Aku telah melakukan kesalahan niat pada waktu solat dan ibadah yang lain. Infak dan sedekahku pun sudah kuhitung secara material, ingin mendapat balasan kelipatan ganda. Aku lupa bahwa di dalam rezeki yang kudapat dari Allah swt. terdapat hak orang lain yang harus diberikan kepada yang berhak, tanpa harus meminta balasan. Cukup ridha Allah saja yang seharusnya aku harapkan, bukan balasan material yang berlipat ganda. Jika pun balasan itu memang janji-Nya, biarkan ia mangalir tanpa harus kutahu, sehingga aku mampu ikhlas dalam beribadah.

Untuk itu, aku hanya ingin mengatakan bahwa kesuksesan adalah istiqomah dalam menjalankan tugas secara sungguh-sungguh, baik, dan benar. Dengan kesuksesan itu, kamu akan mendapatkan keberkahan, yaitu jika segala kerja yang kita lakukan–dijalankan dengan ikhlas–dan diniatkan ibadah serta selalu ingat kepada Allah swt. Semoga cara berpikir semacam ini mampu membuat kita semua untuk berhijrah kepada kehidupan yang lebih baik, Peradaban Spiritual. Amin ya robbal ‘alamin.
0

Rabu, 12 September 2012

Segenggam Asa



Ada yang kurang memang
Dalam kesendirianku kini
Pagiku kini tak seriang kemarin
Saat suaramu masih kudengar
Angin malampun tau...
Dingin memang tanpamu...
Bintangpun enggan keluar...
Kosong... langit bagai mati

Saat mentari kembali...
Hangat jiwa kini kurasa...
Tolong... Cairkan...kebekuan hati ini...

Sahabat..
Sepi kini memang milik-ku..
Milikmu, milik kita Tapi bukan untuk selamanya
Jangan berhenti kawan... Jalan masih panjang...
Segenggam asa... Mesti kau raih...
Kini atau kelak ... Engkau pasti dapat...
Mengejar semua cita... Impian..yang engkau impikan
0

Kamis, 12 Juli 2012

Awal Masa SMA



Kisah ini diawali dari kisah pahitku di SMP. Saat itu bertubi-tubi masalah hinggap dipundakku. Tapi aku mulai mengerti bahwa arti hidup ini ialah memaknai setiap hal yg kita rasakan untuk dipelajari. Mungkin begitulah yang aku tangkap saat ini, semua memang aneh, ku berubah pesat ketika SMA ku juga tak percaya akan hal ini, tapi inilah kenyataannya. Selama ini ku selalu bermimpi di dunia khayal dan tak mau melihat kenyataan. Aku sadar apa yang ku lakukan itu salah, tapi percayalah aku punya alas an yang sangat jelas. Masa SMA ini mulai ku rasakan, walau terkesan telat, tapi ya inilah resiko org MUNAFIK seperti ku.

Awalnya keterpaksaan menjadi acuan, tapi akhirnya kebersamaan menghilangkannya. Banyak canda tawa, sakit hati, cemburu, bersitegang, kecewa, senang, gelisah, terharu, yang kulalui walaupun baru satu tahun masa SMA ini berlangsung.

Kini DRAMA MASA SMA ku baru saja dimulai. Semua yang ada sekecil apapun merupakan pelengkap dalam hidup ku. Kita memang hanya hidup ditengah keramaian yang sulit. Perlu kedewasaan untuk menghadapi ini semua. Berteriaklah, Masa SMA ku baru saja di mulai (^_^’)
0

Kamis, 05 Juli 2012

Kenangan



Ribuan jalan telah kita lewati
Berbagai rintangan telah kita lalui
Penuh wewangian bunga maupun bertabur duri
Penuh suka maupun duka di hati
Semua bukanlah sekedar kenangn
Semua bukanlah sekedar renungan
Saat kita dalam kebersamaan
Dalam suka maupun pengorbanan
Namun, kita tlah tahu
Kita tak selamanya bersatu
Menempuh jalan hidup yang bertabur debu
Bertabur dedaunan yang tak pernah tersapu
Saat berpisah harus menyapa
Ku tak ingin kau teteskan air mata
Ku tak ingin kau berduka
Karena hati kita kan tetap bersama
Sahabatku tercinta!!
Inilah hidup
Kadang kita membuka
Suatu saat kita kan menutup
Sahabatku tercinta..!!
Ku ingin kita kembali bersama
Di saat harta tak lagi berguna
Di saat cinta menjadi satu-satunya pembela
Dari dulu kita selalu bersama, selalu mengerti keadaan satu sama lain
Selalu memahami, selalu memiliki, selalu memberi, selalu mengisi satu sama lain
Hanya engkau dari dirikulah yang mengerti aku
hanya aku dan dirimulah yang engerti kamu
Persahabatan ini tak akan pernah putus walah badai menghadang
Persahabatan ini tak pernah pecah walau terbentur batu
Persahabatan ini tak pernah pisah karena waktu
Ingatlah wahai sahabat, saat kita tersenyum dan tertawa bersama
Ingatlah saat kita pernah kesusahan dan sakit bersama
Sesuatu yang pernah kita lalui terlalu berharga untuk dilupakan
Tetaplah Menjadi Sahabat Terbaikmu
Karena aku janji untuk menjadi Sahabat Terbaikmu selalu
0