Rabu, 10 Oktober 2012

MUHASABAH



Untuk kesekian kali, aku harus mencoba menghisap diri, seberapa manfaat diriku kepada orang-orang di sekitarku. Ternyata, selalu saja aku sangat kecewa dengan diriku sendiri. Aku merasa masih sangat sedikit memanfaatkan potensi yang diberikan Allah swt. untuk kebaikan orang lain. Buktinya, belum pernah ada yang merasa bangga dengan diriku, bahkan diriku sendiri. Terkadang, aku justru lalai, dan terlanjur bangga dengan sedikitnya amal dan kebodohanku. Sungguh memalukan! Aku malu kepadamu, Ya Allah….

Beberapa kali aku merasa telah sukses, karena mendapatkan juara atau telah merasa melakukan perubahan terhadap masyarakat yang sesungguhnya tidak pernah berubah karena diriku. Sungguh sangat memalukan. Aku begitu bangga dengan keseuksesan bernilai material dan artifisial. Kecerdasan yang diberikan Allah kepadaku telah kugunakan untuk mengejar dunia yang sangat materialis dan mempesona. Aku lupa dengan kesuksesan yang sesungguhnya. Kesuksesan yang seharusnya aku perjuangkan hingga matinya jasadku.

Begitu bodohnya aku, karena telah meninggalkan sukses yang mengandung “kesejatian”, yang tidak mungkin di dapat dengan cara mengejar meterialisme dunia. Padahal, setiap hari aku mendengar para Muadzin mengumandangkan ajakan untuk menuju sukses, “Hayya alal falah”. Aku telah melakukan kesalahan tafsir terhadap ajakan itu. Kukira aku diajak untuk mengejar milyaran rupiah dan jabatan-jabatan dunia yang kini sedang diperebutkan manusia. Aku lupa bahwa ajakan itu berasal dari masjid, supaya aku kembali kepada pangkuan Allah swt., karena tidak ada tujuan yang paling baik, kecuali kembali kepada Allah swt., inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Bahkan, ternyata aku juga telah menempatkan solat dan doa sebagai alat untuk mengejar harta dan jabatan. Aku telah melakukan kesalahan niat pada waktu solat dan ibadah yang lain. Infak dan sedekahku pun sudah kuhitung secara material, ingin mendapat balasan kelipatan ganda. Aku lupa bahwa di dalam rezeki yang kudapat dari Allah swt. terdapat hak orang lain yang harus diberikan kepada yang berhak, tanpa harus meminta balasan. Cukup ridha Allah saja yang seharusnya aku harapkan, bukan balasan material yang berlipat ganda. Jika pun balasan itu memang janji-Nya, biarkan ia mangalir tanpa harus kutahu, sehingga aku mampu ikhlas dalam beribadah.

Untuk itu, aku hanya ingin mengatakan bahwa kesuksesan adalah istiqomah dalam menjalankan tugas secara sungguh-sungguh, baik, dan benar. Dengan kesuksesan itu, kamu akan mendapatkan keberkahan, yaitu jika segala kerja yang kita lakukan–dijalankan dengan ikhlas–dan diniatkan ibadah serta selalu ingat kepada Allah swt. Semoga cara berpikir semacam ini mampu membuat kita semua untuk berhijrah kepada kehidupan yang lebih baik, Peradaban Spiritual. Amin ya robbal ‘alamin.
0